Ujian Tengah Semester Filosofi Pendidikan Indonesia
Ki
Hajar Dewantoro adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia dalam bidang Pendidikan. Beliau di juluki sebagai Bapak Pendidikan
Nasional. Perjuangan beliau begitu berarti dalam perjalanan pendidikan di
Indonesia. Salah satunya dengan mendirikan Taman Siswa. Tempat yang sesuai
namanya, yakni “taman”. Taman biasa di identikan dengan sebuah tempat yang
indah, penuh dengan bunga-bunga. Namun beliau mampu menjadikan taman tersebut
bukan sebagai tempat berpiknik atau bertamasya, melainkan sebagai tempat
belajar.
Filosofi-filosofinya
dapat dijadikan sebagai inspirasi dalam melakukan proses pendidikan. Salah satu
yang paling terkenal dan dijadikan sebagai motto pendidikan nasional yaitu “Tut
Wuri Handayani” yang berarti “Dari belakang memberi dorongan”. Frasa ini sangat
merefleksikan peran pendidikan dalam kehidupan nyata, dimana sebuah pendidikan
tentu menjadikan sebuah dorongan yang munculnya di belakang. Tetapi frasa
tersebut sebenarnya ada tiga. “Ing ngarso sung tulodho”, “Ing madyo mangun
karso”, dan “Tut wuri handayani”. Ketiga kata-kata ini bila diterapkan dalam
sebuah sistem apa pun itu, bukan hanya pendidikan, maka akan menjadi sebuah
sistem yang sangat ideal.
“Ing
ngarso sung tulodho” yang berarti “Di depan menjadi contoh”. Ini sangat sesuai
sebagai sebuah motto bagi seorang pemimpin ataupun pendidik. Seorang pemimpin
maupun pendidik harus bisa berada di depan. Terlebih lagi, seorang Guru di
dalam budaya Indonesia memiliki peran yang tidak remeh di masyarakat. Hal ini
merupakan budaya yang sudah ada sejak turun-temurun di mana seorang Guru di
anggap menjadi orang yang pintar dan tahu segalanya. Tidak jarang seorang Guru
di masyarakat walaupun bukan di sekolah, mereka akan tetap disebut-sebut gelar
“Guru”-nya. Namun hal ini kurang bisa di sandang oleh para guru jaman sekarang.
Realita seorang Guru yang menjadi guru karena terpaksa membuat banyak guru yang
sebenarnya kurang bisa menjadi sosok guru yang dikenal masyarakat pada masa
lalu. Melihat bagaimana proses untuk menjadi seorang Guru di sekolah yang
bermula dari ketidak tercapaian karir yang diimpikannya dan memilih menjadi
guru sebagai karirnya. Dengan demikian, ini membuat guru yang ada saat ini
menjadi kurang “gairah” dalam memikul statusnya sebagai “Guru” di dalam tatanan
masyarakat.
“Ing
madyo mangun karso” yang berarti “Ditengah membangun kepercayaan”. Dari
prespektif saya, kata “karso” di sini memiliki makna yang sama dengan “kersa”
atau “keinginan”. Jadi di sini sosok seorang guru mestinya mampu membangun
keinginan, atau membuat siswa menjadi ingin. Dalam istilah singkatnya yaitu
mampu menjadi motivator yang memotivasi siswanya. Makanya jarang seorang guru
yang memotivasi siswanya untuk menjadi guru juga. Seorang guru yang senior
dalam pendidikan biasanya memotivasi siswanya untuk menjadi figur yang lebih
berada di masyarakat daripada menjadi guru. Misalnya seorang anak bercita-cita
menjadi seorang polisi, maka guru yang baik biasanya akan memotivasi siswa
tersebut untuk bisa mencapai apa yang dia cita-citakan dan bahkan menumbuhkan
motivasi misalnya dengan meninggikan kata-katanya dengan “Besok jadi Polisi,
jadi Jendral Polisi, bukan polisi tidur.”, atau “Wah, bagus, jadi polisi, nanti
bisa menangkap penjahat, menangkap koruptor biar Indonesia makmur”. Apakah ada
guru yang tidak memotivasi siswanya? Tentu ada saja oknum guru saat ini yang
kurang bisa memaknai motto pendidikan KHD yang kedua ini. Bukannya memotivasi
siswa agar semangat dalam belajar, namun sebaliknya malah membuat siswa trauma
untuk berangkat ke sekolah. Misalnya dengan melakukan tindak kekerasan yang
membuat siswa menjadi takut untuk berangkat ke sekolah. Kekerasan bukan hanya
fisik saja, melukai perasaan siswa pun bisa dikategorikan sebagai kekerasan
dalam pendidikan. Seorang guru yang melakukan pelecehan kepada siswanya tentu
akan membuat siswa menjadi trauma. Tidak sedikit kasus yang tercuat ke publik
tentang kasus guru yang tidak bisa mengimplementasikan motto “Ing madyo mangun
karso” ini. Jadi mestinya seorang guru bukan hanya sebagai fasilitator siswa
untuk belajar, namun juga motivator siswa agar menjadi sosok manusia yang lebih
manusiawi sesuai dengan kodratnya.
Motto
yang ketiga, “Tut wuri handayani”. Motto ini sangat ikonik karna memang
dijadikan ikon dalam logo Pendidikan Nasional. Tut wuri handayani berarti dari
belakang memberi dorongan. Motto ini sebenarnya dicetuskan KHD guna menciptakan
persaingan dengan lembaga pendidikan Belanda. Dalam pendidikan yang ada di
Taman Siswa, KHD menekankan pengajarnya untuk menjadi pendorong terhadap
hal-hal yang ingin dipelajari oleh siswanya, bukan memaksa siswanya untuk
belajar. Motto ini dijabarkan lebih dalam di Sistem Among.
Semua frasa-frasa di atas menggunakan bahasa Jawa yang bisa dikatakan cukup tinggi. Hal ini dikarenakan KHD sendiri sebenarnya adalah seorang keturunan berdarah biru di Kesultanan Ngayogyakarta. Beliau adalah putra dari Pangeran Suryaningrat dan cucu dari Sri Paku Alam III. Lingkungan keraton membuat pemikiran KHD cukup banyak dipengaruhi oleh falsafah-falsafah Jawa. Beliau yang seorang keturunan ningrat ini tentu punya keistimewaan untuk mengenyam pendidikan yang ketika itu diselenggarakan oleh pemerintah kolonial. Hal-hal yang mengganjal di hati beliau ini lah yang kemudian memunculkan pemikiran-pemikiran filosofi pendidikan yang sesuai dengan pribadi Bangsa Indonesia, dalam konteks ini, beliau adalah orang Jawa. Hal-hal apa yang semestinya seorang Jawa ketahui tentang budayanya, tidak dia dapatkan di sekolah Belanda. Isu ini yang memantik beliau untuk mendirikan sekolah yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia.
Komentar
Posting Komentar